EASTCANYONHOTEL.COM – Pinjaman Kredit Usaha Rakyat atau KUR Kembali menjadi sorotan yang banyak diminati pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di awal 2026. Salah satu faktor utama yang membuat program ini tetap diminati adalah bunga KUR BRI 2026 yang relatif rendah serta plafon pinjaman yang cukup besar untuk mendukung pengembangan usaha.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai penyalur utama KUR terus dipercaya menyalurkan kredit bersubsidi pemerintah kepada pelaku UMKM di berbagai daerah. Dengan skema cicilan ringan dan tenor fleksibel, KUR BRI dinilai mampu membantu pelaku usaha menjaga arus kas sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis.
Gambaran Bunga KUR BRI 2026
Secara umum, bunga KUR BRI ditetapkan jauh lebih rendah dibandingkan kredit komersial. Kebijakan ini bertujuan agar UMKM tidak terbebani cicilan tinggi, terutama di fase awal pengembangan usaha.
Mengacu pada pola penyaluran tahun sebelumnya, bunga KUR BRI 2026 diperkirakan masih berada di kisaran satu digit per tahun. Angka ini jauh lebih ringan dibandingkan bunga pinjaman reguler yang biasanya berada di atas 12 persen per tahun.
Rendahnya bunga tersebut membuat KUR BRI menjadi salah satu skema pembiayaan paling kompetitif di sektor perbankan nasional.
Jenis KUR BRI dan Plafon Pinjaman
BRI menyalurkan KUR dalam beberapa kategori sesuai skala usaha peminjam, yaitu:
KUR Super Mikro
Menyasar pelaku usaha ultra mikro dengan plafon hingga Rp10 juta. Skema ini menawarkan bunga sekitar 3 persen efektif per tahun.
KUR Mikro
Memiliki plafon pinjaman mulai Rp10 juta hingga Rp100 juta. Untuk kategori ini, bunga berkisar antara 6–9 persen efektif per tahun.
KUR Kecil
Ditujukan bagi usaha yang sudah berkembang dengan plafon hingga Rp500 juta dan tenor maksimal lima tahun, dengan bunga tetap kompetitif sesuai kebijakan pemerintah.
Untuk pinjaman Rp100 juta, sebagian besar debitur menggunakan skema KUR Mikro.
Tabel Angsuran KUR BRI 2026 Plafon Rp100 Juta
Berikut gambaran tabel angsuran KUR BRI 2026 untuk pinjaman Rp100 juta dengan tenor bervariasi:
- Tenor 12 bulan: cicilan sekitar Rp8,6 juta per bulan
- Tenor 24 bulan: cicilan sekitar Rp4,4 juta per bulan
- Tenor 36 bulan: cicilan sekitar Rp3 juta per bulan
- Tenor 48 bulan: cicilan sekitar Rp2,3 juta per bulan
- Tenor 60 bulan: cicilan sekitar Rp1,9 juta per bulan
Simulasi tersebut dapat menjadi referensi awal bagi pelaku UMKM untuk menyesuaikan tenor pinjaman dengan kemampuan keuangan usaha.
Pemilihan tenor pinjaman memiliki dampak langsung terhadap besaran cicilan dan total bunga. Tenor pendek memang membuat total bunga lebih kecil, namun cicilan per bulan lebih besar. Sebaliknya, tenor panjang menawarkan cicilan ringan, tetapi total bunga yang dibayarkan menjadi lebih besar.
Pelaku usaha disarankan memilih tenor yang seimbang dengan omzet agar operasional tetap berjalan stabil.