EASTCANYONHOTEL.COM – Harga emas antam kembali menjadi perbincangan hangat investasi di Indonesia. Pada 12 Januari 2026, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai Rp 2.631.000 per gram di pasar domestik.
Lonjakan ini menunjukkan bahwa logam mulia masih berada dalam fase permintaan tinggi yang tak terkendali oleh dinamika pasar global saat ini.
Kenaikan harga emas Antam tidak lepas dari kondisi geopolitik dan ekonomi global yang masih bergejolak. Para investor domestik penggemar aset safe haven makin tertarik menambah kepemilikan emas fisik, terutama ketika kisaran harga terus merangkak naik dari pekan ke pekan.
Selain itu, harga emas dunia yang menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir ikut menarik minat beli di pasar Indonesia.
Harga emas Antam yang terus naik banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi. Ketidakpastian global, termasuk risiko geopolitik dan tekanan inflasi, membuat investor mempertimbangkan emas sebagai “lindung nilai”. Dalam konteks global, harga emas terus mencapai puncak baru dan mendekati atau melampaui rekor historisnya di pasar spot internasional.
Selain itu, sejumlah lembaga keuangan internasional seperti Morgan Stanley memprediksi bahwa harga emas dunia masih berpeluang naik signifikan hingga akhir 2026, dengan target hingga US$ 4.800 per ounce. Perkiraan ini didasarkan pada skenario suku bunga yang lebih rendah, permintaan kuat dari bank sentral, dan pergeseran alokasi investor ke instrumen non-yielding seperti emas dalam portofolio mereka.
Beli Emas Sekarang: Risiko atau Peluang?
Di tengah lonjakan harga tersebut, banyak calon investor mempertanyakan: apakah beli emas sekarang justru merugikan?
Menurut pandangan beberapa pakar ekonomi dan investasi, jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa dipukul rata karena tergantung pada tujuan, strategi, dan jangka waktu investasi masing-masing orang.
1. Emas sebagai Instrumen Jangka Panjang dan “Safe Haven”
Nailul Huda, ekonom dari Center of Economic and Law Studies, menilai emas tetap menjadi instrumen menarik karena harganya yang cenderung naik dalam jangka panjang dan risiko relatif rendah dibandingkan aset lain saat terjadi gejolak ekonomi. Emas juga dipilih sebagai pelindung nilai (“hedge”) pada masa ketidakpastian pasar.
Pandangan ini didukung oleh tren harga emas global yang terus meroket di akhir tahun hingga awal 2026, serta proyeksi institusi besar seperti Morgan Stanley yang masih melihat upside bagi harga emas sepanjang tahun mendatang.
2. Perlu Hati-Hati dan Realistis
Dr. Muhammad Findi, pakar kebijakan publik dari IPB University, mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dan realistis sebelum membeli emas. Menurutnya, emas memang likuid dan aman dalam jangka panjang, tetapi bukan berarti cocok untuk semua lapisan masyarakat atau strategi investasi jangka pendek, terlebih jika pembelian dilakukan dengan dana yang seharusnya untuk kebutuhan harian atau dalam keadaan berutang.
Pendapat Findi ini menyoroti bahwa investor perlu memastikan posisi keuangan stabil dan tujuan investasi jelas sebelum menempatkan dana di emas, terutama ketika harganya sudah tinggi seperti saat ini.
3. Spread dan Biaya Tambahan
Menurut analis finansial dari OCBC, salah satu kelemahan investasi emas Antam adalah spread atau selisih antara harga beli dan jual yang relatif tinggi, yang bisa mengurangi persentase keuntungan bagi investor jika dilakukan dalam jangka pendek. Selain itu, menyimpan emas melalui layanan seperti tabungan emas atau penitipan akan menimbulkan biaya tambahan yang perlu diperhitungkan.
Jadi, apakah membeli emas sekarang akan rugi?
Bagi investor jangka panjang, emas masih bisa menjadi pilihan yang bijak, terutama sebagai diversifikasi aset dan pelindung nilai terhadap inflasi atau gejolak pasar. Proyeksi harga global yang bullish mendukung kemungkinan emas tetap menguat dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi investor jangka pendek atau spekulan, harga yang sudah tinggi saat ini bisa berarti risiko koreksi atau volatilitas lebih besar. Pembelian tanpa strategi yang matang dan tujuan jelas berpotensi membuat nilai investasi stagnan atau bahkan turun ketika pasar bergejolak.
Strategi seperti dollar cost averaging (DCA) atau pembelian bertahap sering disarankan untuk meminimalkan dampak fluktuasi harga harian dan meningkatkan peluang mendapatkan rata-rata harga yang lebih baik bagi investor baru.